




12 Manfaat Hutan Mangrove Bagi Kehidupan Manusia Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang banyak ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan atau padat. Mangrove solusi penting untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan,kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Yang tidak hanya berdampak untuk hewan tapi juga untuk manusia. Mangrove telah menjadi pelindung lingkungan yang sangat besar.
3 komentar:
TUGAS SISWA/SISWI SMA JAKARTA RAYA
SMA JR -LUBANG BUAYA JAKARTA TIMUR
KELAS X,XI & XI
1.MENCARI BERITA /ARTIKEL TENTANG PERKEMBANGAN TEATER,SERTA DOKUMENTASI BERITA YANG BERKAITAN
2. MENCARI DAN MENGIRIM FOTO-FOTO PERTUNJUKAN TEATER MODERN INDONESIA DAN MANCANEGARA
TTD,
P. TIO
CONTOH :
Konsolidasi Publik Teater Modern, Siapa Peduli?
Oleh
Maria Magdalena Bhoernomo
Memperjuangkan teater modern di Indonesia agar dapat hidup sebagai seni panggung (yang dibutuhkan dan membutuhkan publik atau penonton) memang bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan napas panjang, kesabaran dan ketekunan yang prima dalam kurun waktu yang bisa saja tak terbatas. Beberapa tahun lalu, seorang pekerja teater, yang juga dikenal sebagai penyair, Sosiawan Leak, pernah berkata bahwa dirinya sedang suntuk melakukan semacam konsolidasi publik teater modern di Solo (Taman Budaya Surakarta).
Ia pun memprakarsai pertunjukan teater yang telah ”mapan” dengan teater kampus dan teater sekolahan secara bergiliran di hari yang sama. Maksudnya agar publik teater yang sudah ”mapan” dan publik teater kampus atau teater sekolahan bisa bersama-sama hadir untuk menonton semua penampilan teater. Dan hasilnya cukup melegakan, karena setiap ada pertunjukan teater selalu dihadiri oleh penonton dengan jumlah yang lumayan.
Tapi belakangan, agaknya Sosiawan Leak telah kehabisan napasnya sebagai pejuang teater di Solo. Dan ia pernah mengeluh, betapa ia sebagai seniman perlu juga memperhatikan keluarganya. Dengan kata lain, ia tidak bisa terus-menerus menjadi pejuang atau pahlawan bagi teater modern, yang tidak pernah memperoleh ”bayaran semestinya”, karena anak istrinya butuh makan. Maklumlah, ia telah menjadikan seni sebagai semacam ideologi, maka ia harus memperoleh apresiasi yang layak dari publik yang menikmati keseniannya. Misalnya, kalau ia diundang untuk membaca puisi, ia harus mendapat imbalan.
Romantisme Konyol
”Kasus Sosiawan Leak” tersebut, agaknya dapat menjadi cermin, betapa memperjuangkan teater modern agar bisa hidup dan punya banyak penonton tidak cukup hanya dengan romantisme. Bahkan, romantisme dalam hal ini tampak konyol, jika dilakukan oleh seseorang yang ingin mengaktualisasikan dirinya secara profesional.
Dan dalam sejarahnya, kehidupan banyak teater modern Indonesia memang bergantung pada romantisme yang konyol tersebut. Sehingga, hampir tidak ada teater modern yang mampu menjadi lahan profesi permanen bagi para pekerjanya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa semua pekerja teater modern di Indonesia memerlukan lahan profesi di bidang lain untuk menghidupi diri dan keluarganya kalau tidak ingin mati kelaparan!
Namun, jika dicermati, bukan hanya seniman teater modern yang butuh lahan profesi lain untuk bertahan hidup. Seniman-seniman di Indonesia, di luar teater juga membutuhkan lahan profesi lain, karena tingkat apresiasi seni di Indonesia, relatif rendah. Selain itu, pihak pemerintah pun cenderung tidak punya apresiasi terhadap seni. Jika dibandingkan dengan perhatiannya terhadap olahraga misalnya, perhatian pemerintah terhadap seni dapat dikatakan selalu jauh panggang dari api.
Agenda Kompetisi
Mungkin, teater modern Indonesia akan dapat hidup dengan memiliki publik yang besar jumlahnya, dan para pekerjanya juga bisa menjadikannya sebagai lahan profesi primer, jika diadakan semacam agenda kompetisi mirip kompetisi sepakbola. Dalam hal ini, semua Taman Budaya yang ada di setiap provinsi dapat dijadikan panggung untuk melangsungkan kompetisi dengan skala nasional.
Untuk menentukan mana teater yang layak mengikuti kompetisi berskala nasional, sebelumnya perlu dilakukan seleksi atau kompetisi berskala lokal. Misalnya, di masing-masing daerah kabupaten, dipilih teater yang paling bagus untuk mengikuti kompetisi di tingkat provinsi. Dan di masing-masing provinsi, dipilih satu atau tiga teater terbaiknya untuk mengikuti kompetisi berskala nasional.
Dalam pelaksanaannya, kompetisi teater modern Indonesia berskala nasional harus dilaksanakan secara rutin setiap bulan di Taman Budaya di semua provinsi, dengan sistem sebagaimana yang dikenal di dalam kompetisi sepakbola. Sehingga, semua kelompok teater berkesempatan manggung di daerah lain, di samping di daerahnya sendiri.
Misalnya, kelompok teater dari Sumatera, Jawa dan Bali bisa manggung di Kalimantan dan di Sulawesi, begitu sebaliknya. Dalam pembentukan kepanitiaan dan penyediaan dananya, bisa dilakukan oleh instansi yang berwenang. Misalnya, Menteri Pariwisata dan Budaya yang menjadi penanggung jawab tertinggi, bisa merangkul pihak sponsor yang berasal dari swasta. Kalau
Bank Mandiri bisa menjadi sponsor kompetisi sepakbola Liga Mandiri, apakah tidak mungkin jika bank-bank lain tertarik untuk menjadi sponsor kompetisi teater modern? Bukankah kompetisi teater modern berskala nasional (jika terwujud) pasti juga akan selalu menjadi berita budaya yang rutin disiarkan oleh berbagai media massa di seluruh Indonesia?
Aset Pariwisata dan Budaya
Jika kompetisi teater modern Indonesia benar-benar dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun, bukan tidak mungkin akan menjadi aset pariwisata dan budaya yang sangat berharga. Dalam hal ini, wisatawan domestik bisa dari kalangan pengamat dan penggemar teater di daerah-daerah. Dan wisatawan asing bisa dari berbagai negara yang ingin menontonnya sekaligus melihat obyek-obyek wisata yang ada di Indonesia.
Jika dalam sepakbola ada suporter yang disebut ”Bonek” yang sangat fanatik mendukung kesebelasan di daerahnya, maka dalam kompetisi teater juga mungkin akan bermunculan fans-fans berat dari banyak daerah yang punya gairah seperti ”Bonek”. Sehingga, publik
teater akan terkonsolidasi dengan sendirinya. Menjadi ”Bonek” dalam kompetisi teater, tentu sangat menyenangkan dibanding menjadi ”Bonek” dalam kompetisi sepakbola. Sebab, dalam kompetisi teater tidak akan muncul kerusuhan atau kekerasan yang membabi-buta dan membahayakan jiwa, kecuali kalau disusupi teroris, misalnya. Maka, tidak tertutup kemungkinan jumlah ”Bonek” dalam kompetisi teater akan jauh lebih besar dibanding dengan jumlah ”Bonek” dalam Kompetisi Liga mandiri. Maka, dengan demikian, sangat mustahil jika tidak ada pihak yang sudi menjadi sponsor.
Harus ditegaskan, betapa persoalan kesenian dan kebudayaan, khususnya persoalan teater modern, selayaknya diperhatikan oleh pemerintah, bukan saja demi para pekerja teater, melainkan demi seluruh bangsa. Jika sepakbola nasional kita yang melulu kalah di dalam kompesiti regional maupun internasional terus-menerus dimanja-manja dengan dana alokasi dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN), kenapa kesenian semacam teater modern dibiarkan merana? Dalam hal ini, membangun taman-taman budaya di semua
provinsi, tanpa mengadakan semacam kompetisi seni (teater), ternyata tidak cukup, dengan bukti betapa banyak taman budaya yang selalu nyaris sunyi tanpa agenda kesenian yang kontinu dengan skala besar (nasional).
Adanya festival-festival kesenian di beberapa taman budaya, yang bertaraf lokal, dapat dianggap hanya sebagai rutinitas yang justru selalu menyudutkan para pekerja teater ke posisi marginal. Dalam hal ini, para pekerja teater yang mengikuti festival kesenian dalam skala lokal seolah-olah semakin dipaksa untuk menjadikan kegiatan berteater hanya sebagai hobi,
bukan profesi primer. Atau dengan kata lain, para pekerja teater seolah-olah dipaksa untuk menikmati romantisme berkesenian yang konyol.
”Ayolah ikut berpartisipasi meramaikan festival kesenian. Biar dikenal oleh publik. Biar diberitakan di koran dan teve. Inilah ajang apresiasi seni. Pak Gubernur mungkin akan ikut menyaksikan.” Kata-kata rayuan demikian sering diucapkan oleh panitia festival seni untuk merayu para pekerja teater. Dan biasanya, para pekerja teater di daerah pun kemudian bersedia ambil bagian dalam festival kesenian yang ada, meski dengan pengorbanan total, tanpa mendapatkan imbalan yang layak!
Pemain Profesional
Dengan adanya kompetisi teater modern berskala nasional, maka para pekerja teater mungkin akan bisa menjadi pemain profesional, sebagaimana pemain sepakbola. Dalam hal ini, setiap kelompok teater terbaik di masing-masing provinsi bisa mengontrak pekerja-pekerja teater yang dapat bermain dengan bagus. Maka, penulis skenario dan sutradara pun bisa dikontrak secara profesional. Maka, sistem transfer antarpemain teater bukan hal yang perlu dianggap aneh lagi.
Untuk selanjutnya, pemain-pemain profesional dalam dunia teater modern juga bisa ditransfer untuk bermain di sinetron atau di dalam acara-acara drama yang ditayangkan oleh teve. Dengan demikian, dunia teater modern akan berkembang pesat, menjadi bagian dari dunia hiburan yang lebih bergengsi, di mana pemain-pemainnya akan menjadi bagian dari hiruk-pikuk dunia selebritis yang bermobil mewah dan punya rumah megah. Begitulah. Dan sayang sekali, jika semua itu hanya menjadi anyaman kata-kata utopia belaka yang sia-sia, karena dianggap mustahil menjadi kenyataan di Indonesia.***
Pencinta Teater, tinggal
di Kudus
Copyright © Sinar Harapan 2003
CONTOH TUGAS SISWA/SISWI SMA JRC © updated 11042005
► e-ti/rp
Nama:
I Gusti Ngurah Putu Wijaya
Lahir:
Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944
Istri:
Dewi Pramunawati
Anak:
I Gusti Ngurah Taksu Wijaya
Ayah/Ibu:
Gusti Ngurah Raka/Mekel Erwati
Agama:
Hindu
Pendidikan:
- SR, Tabanan (1956)
- SMP Negeri, Tabanan (1959)
- SMA-A, Singaraja (1962)
- Fakultas Hukum UGM (1969)
- ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
- LPPM, Jakarta (1981)
- International Writing Programme, Iowa, AS (1974)
Karir:
- Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang)
- Penulis skenario film, antara lain Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980), Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985), Ramadhan dan Ramona, Dokter Karmila, Bayang-Bayang Kelabu, Anak-Anak Bangsa, Wolter Monginsidi, Sepasang Merpati, Telegram
- Penulis skenario sinetron, antara lain Keluarga Rahmat, Pas, None, Warung Tegal, Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995), Jari-Jari Cinta, Balada Dangdut, Dendam, Cerpen Metropolitan, Plot, Klop, Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan), Nostalgia, Api Cinta Antonio Blanco, Tiada Kata Berpisah, Intrik, Pantang Menyerah, Sejuta Makna dalam Kata, Nona-Noni.
Kegiatan Lain:
- Wartawan majalah Ekspres (1969)
- Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
- Wartawan majalah Tempo (1971-1979)
- Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
- Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)
Karya Drama:
Dalam Cahaya Bulan (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Bila Malam Bertambah Malam (1970), Invalid (1974), Tak Sampai Tiga Bulan (1974), Anu (1974), Aduh (1975), Dag-Dig-Dug (1976), Gerr (1986), Edan, Hum-Pim-Pah, Dor, Blong, Ayo, Awas, Los, Aum, Zat, Tai, Front, Aib, Wah, Hah, Jpret, Aeng, Aut, dan Dar-Dir-Dor
Karya Novel:
Bila Malam Bertambah Malam (1971), Telegram (1972), Stasiun (1977), Pabrik (1976), Keok (1978), Aduh, Dag-dig-dug, Edan (semuanya diterbitkan Pustaka Jaya tahun, 1972-1977), Gres, Lho (1982), Nyali (semuanya diterbitkan Balai Pustaka, 1982-1983), Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995), Kroco (Pustaka Firdaus, 1995), Dar Der Dor (Grasindo, 1996), Aus (Grasindo, 1996), Sobat (1981), Tiba-Tiba Malam (1977), Pol (1987), Terror (1991), Merdeka (1994), Perang (1992), Lima (1992), Nol (1992), Dang Dut (1992), Cas-Cis-Cus (1995)
Karya Cerpen:
Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978), Es (1980), Gres (1982), Klop, Bor, Protes (1994), Darah (1995), Yel (1995), Blok (1994), Zig Zag (1996), dan Tidak (1999)
Karya Novelet:
MS (1977), Tak Cukup Sedih (1977), Ratu (1977), dan Sah (1977)
Karya Esai:
Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.
Penghargaan:
- Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogya)
- Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
- Pemenang penulisan novel IKAPI
- Pemenang penulisan drama BPTNI
- Pemenang penulisan drama Safari
- Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
- Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
- Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
- Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
- Pemenang penulisan esei DKJ
- Dua kali pemenang penulisan novel Femina
- Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
- Pemenang penulisan cerpen Kartini
- Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
- Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
- SEA Write Award 1980 di Bangkok
- Pemenang penulisan esei Kompas
- Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
- Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
- Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)
Alamat Kantor:
Jalan Mimosa I/1, Sunter Mas, Jakarta 14350
Telepon (021) 6506604 Faksimile (021) 6506828
Alamat Rumah:
Kompleks Astya Puri 2 No. A9, Jalan Kerta Mukti, Cerendeu, Jakarta Selatan
Telepon/Faksimile (021) 7444678
Email:
wijayaputu@hotmail.com
Sumber:
Dari berbagai sumber
PUTU WIJAYA HOME
► PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009: Pilih partai atau tokoh yang sudah Anda kenal dan/atau Anda yakni akan berpihak kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara (berazas Pancasila) ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► PEMILU LEGISLATIF 9 APRIL 2009: Pilih partai atau tokoh yang sudah Anda kenal dan/atau Anda yakni akan berpihak kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara (berazas Pancasila) ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
BIOGRAFI
Putu Wijaya
Sastrawan Serba Bisa
Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya. Novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan: Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Namanya I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang biasa disebut Putu Wijaya. Tidak sulit untuk mengenalinya karena topi pet putih selalu bertengger di kepalanya. Kisahnya, pada ngaben ayahnya di Bali, kepalanya digundul. Kembali ke Jakarta, selang beberapa lama, rambutnya tumbuh tapi tidak sempurna, malah mendekati botak. Karena itu, ia selalu memakai topi. "Dengan ini saya terlihat lebih gagah," tutur Putu sambil bercanda.
Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Ia bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Semasa di SD, ''Saya doyan sekali membaca,'' tuturnya, ''Mulai dari karangan Karl May, buku sastra Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang berahi. Sejak kecil, saya juga senang sekali seni pertunjukan. Mungkin sudah merupakan bakat, senang pada seni laku," ujarnya mengenang.
Meskipun demikian, ia tak pernah diikutkan main drama semasih kanak-kanak, juga ketika SMP. Baru setelah menang lomba deklamasi, ia diikutkan main drama perpisahan SMA, yang diarahkan oleh Kirdjomuljo, penyair dan sutradara ternama di Yogyakarta. Ia pertama kali berperan dalam Badak, karya Anton Chekov. "Sejak itu saya senang sekali pada drama," kenang Putu.
Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya. Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.
Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.
Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil asuhan sutradara ternama Arifin C. Noer dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres (1969). Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). "Saya perlu bekerja jadi wartawan untuk menghidupi keluarga saya. Juga karena saya tidak mau kepengarangan saya terganggu oleh kebutuhan mencari makan," tutur Putu.
Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama (Kabuki) di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Sebelum pulang ke Indonesia, mampir di Prancis, ikut main di Festival Nancy.
Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. "Yang melekat di kepala saya adalah bagaimana menulis sesuatu yang sulit menjadi mudah. Menulis dengan gaya orang bodoh, sehingga yang mengerti bukan hanya menteri, tapi juga tukang becak. Itulah gaya Tempo," ungkap Putu. Ia juga membiasakan diri dengan tenggat - suatu siksaan bagi kebanyakan pengarang. Dari Tempo, Putu pindah ke majalah Zaman (1979-1985), dan ia tetap produktif menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri, yang dipimpinnya. Di samping itu, ia mengajar pula di Akademi Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Ia mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001).
Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.
Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya - penuh potongan-potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif bahasanya. Ia lebih mementingkan perenungan ketimbang riwayat.
Adapun konsep teaternya adalah teror mental. Baginya, teror adalah pembelotan, pengkhianatan, kriminalitas, tindakan subversif terhadap logika - tapi nyata. Teror tidak harus keras, kuat, dahsyat, menyeramkan; bahkan bisa berbisik, mungkin juga sama sekali tidak berwarna.
Ia menegaskan, ''teater bukan sekadar bagian dari kesusastraan, melainkan suatu tontonan.'' Naskah sandiwaranya tidak dilengkapi petunjuk bagaimana harus dipentaskan. Agaknya, memberi kebebasan bagi sutradara lain menafsirkan. Bila menyinggung problem sosial, karyanya tanpa protes, tidak mengejek, juga tanpa memihak. Tiap adegan berjalan tangkas, kadang meletup, diseling humor.Mungkin ini cerminan pribadinya. Individualitasnya kuat, dan berdisiplin tinggi.
Saat ditanya pemikiran pengarang yang sehari bisa mengarang cerita 30 halaman, menulis empat artikel dalam satu hari ini tentang tulis menulis, Putu menjawab, ''Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,'' katanya, ''bahkan kalau bisa tanpa diketahui.'' Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. ''Kesenian,'' katanya, ''merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas.''
"Saya sangat percaya pada insting," kata Putu tentang caranya menulis. "Ketika menulis, saya tidak mempunyai bahan apa-apa. Semua datang begitu saja ketika di depan komputer," katanya lagi. Ia percaya bahwa ada satu galaksi dalam otak yang tidak kita mengerti cara kerjanya. Tapi, menurut Putu, itu bukan peristiwa mistik, apalagi tindak kesurupan.
Selain menekuni dunia teater dan menulis, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron. Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.
Pada 1977, ia menikah dengan Renny Retno Yooscarini alias Renny Djajusman yang dikaruniai seorang anak, Yuka Mandiri. ''Sebelum menikah saya menulis Sah, ee, saya mengalami persis seperti yang saya tulis,'' ujarnya. ''Pernikahan saya bubar pada 1984.'' Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia menikahi gadis Sunda, Dewi Pramunawati, karyawati majalah Medika. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya hidup di Amerika Serikat selama setahun.
Atas undangan Fulbright, 1985-1988, ia menjadi dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS. Atas undangan Japan Foundation, Putu menulis novel di Kyoto, Jepang, 1992. Setelah lama berikhtiar - walau dokter di Amerika mendiagnosis Putu tak bakal punya anak lagi - pada 1996, pasangan ini dikaruniai seorang anak, Taksu.
Rumah tangga baginya sebuah "perusahaan". Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan. Soal pendidikan anak, "Saya tidak punya cara," ujar Putu. Anak dianggap sebagai teman, kadang diajak berunding, kadang dimarahi. Dan, kata Putu, "Saya tidak mengharapkan ia menjadi apa, saya hanya memberikan kesempatan saja."
Kini, penggemar musik dangdut, rock, klasik karya Bach atau Vivaldi dan jazz ini total hanya menulis, menyutradarai film dan sinetron, serta berteater. Dalam bekerja ia selalu diiringi musik. Olahraganya senam tenaga prana Satria Nusantara. "Sekarang saya sudah sampai pada tahap bahwa kesenian merupakan upaya dan tempat berekspresi sekaligus pekerjaan," ujar Putu. ►ti/atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Posting Komentar